Peranan kreatif dan Inovatif

BAB I

Pendahuluan

1.1  Latar belakang masalah

Dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia yang kian hari semakin banyak, banyak perusahaan dan industri yang memproduksi dan menjual berbagai jenis barang dan jasa. Perusahaan dan industri yang ada saling bersaing untuk memberikan yang terbaik kepada konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun dilain pihak, masyarakat sebagai konsumen dapat mengetahui informasi mengenai suatu produk dari iklan di media massa, baik itu media cetak maupun media elektronik, atau dari pengalaman masa lalu dalam penggunaan suatu produk tertentu. Maka sudah sewajarnya apabila konsumen menjadi semakin selektif didalam memilih suatu produk. Kecenderungan yang terjadi adalah masyarakat akan memilih suatu produk yang mereka anggap mempunyai keunggulan kualitas, baik keunggulan kualitas produk ataupun pelayanannya sehingga dapat memuaskan mereka sebagai konsumen dan dapat menciptakan loyalitas konsumen.

Namun sejak krisis global melanda dunia termasuk Indonesia, banyak para pengusaha Indonesia, menghadapi permasalahan yang cukup berat. Permintaan produk ekspor dari luar negeri menurun drastis begitu juga dengan permintaan dari domestik. Begitu juga dengan dunia usaha perbankan, banyak para kreditur yang tidak bisa melunasi hutang, termasuk kreditur perumahan. Para debitur menarik dananya dari bank, sehingga mengancam kredibilitas bank tersebut dan akhirnya banyak pihak perbankan yang melakukan pemotongan karyawan (pemecatan karyawan) untuk mengurangi biaya.

Untuk menghadapi krisis global, para pengusaha perbankan harus melakukan terobosan baru yang lebih efisien dan efektif dari pada sekedar melakukan pemecatan karyawan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan kreatifitas dan inovasi. Hanya dengan kreatifitas dan inovasilah dunia usaha dapat berkembang walau di hadapkan pada krisis global karena permintaan terhadap produk dan jasa yang kreatif dan inovatif tidak dipengaruhi oleh krisis ekonomi.

Masalah dan ide tersebut melatar belakangi penulisan penelitian ini dengan judul ”Pendekatan Perilaku Kreatifitas dan Inovasi dalam Kondisi Krisis”.

1.2  Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis akan mengidentifikasi masalah yang akan dibahas didalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana krisis global dimata pengusaha dunis perbankan?
  2. Bagaimana pengaruh perilaku inovasi terhadap dunia perbankan?
  3. Bagaimana pengaruh perilaku kreatif terhadap dunia perbankan?

1.3  Pembatasan Penelitian

Pada penulisan ini, penulis hanya membatasi masalah pada hubungan perilaku kreatif dan inovatif terhadap kondisi krisis.

1.4  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan para pengusaha dunia perbankan terhadap krisis global?
  2. Bagaimana pengaruh perilaku inovasi terhadap dunia perbankan?
  3. Bagaimana pengaruh perilaku kreatif terhadap dunia perbankan?

1.5  Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pandangan para pengusaha dunia perbankan terhadap krisis global
  2. Untuk mengetahui pengaruh perilaku inovasi terhadap dunia perbankan
  3. Untuk mengetahui pengaruh perilaku kreatif terhadap dunia perbankan

1.6  Sistematika Pembahasan

Untuk lebih memudahkan pemahaman uraian-uraian dalam penelitian ini, penulis membagi penulisan ini kedalam 4 (empat) bab dimana uraian dalam masing-masing bab merupakan rangkaian dari bab lainnya. Secara singkat pembagian dijelaskan sebagai berikut :

Bab. I         Pendahuluan

Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab. II       Landasan Teori

Dalam bab ini dijelaskan secara rinci tinjauan pustaka terhadap berbagai teori dan defenisi tentang perilaku, kreatifitas, inovasi, dan kerangka berfikir.

Bab. III      Kasus Bank Mikro Finance, Mikro Banking, BPR, dan BPD

Bab. IV       Kesimpulan dan Saran

Dalam bab ini penulis akan mengambil kesimpulan dari penelitian ini dan memberiakan saran-saran yang dirasa perlu untuk dikemukakan.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1    Pengertian Perilaku/Behavior

Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku.  Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.

Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh – tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing – masing. Sehingga yang dimaksu perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal  114).
Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S – O – R”atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses.

1.  Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebutelecting stimulation karena menimbulkan respon – respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya ddengan mengadakan pesta, dan sebagainya.

2. Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Pernagsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.

2.2    Bentuk Perilaku

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

  • Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dakam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belumbisa diamati secara jelas oleh orang lain.
  • Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice).

2.3    Domain Perilaku

Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor – factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

  • Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
  • Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominanyang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)

2.4    Proses Terjadinya Perilaku

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni

  1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu
  2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
  3. Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya).Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
  4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
  5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetanhuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting). Notoatmodjo, 2003 hal 122).

2.5    Pengertian Kreativitas dan Inovasi

2.5.1        Pengertian Kreatifitas

Kreatifitas merupakan suatu bidang kajian yang kompleks, yang menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Perbedaan definisi kreativitas yang dikemukakan oleh banyak ahli merupakan definisi yang saling melengkapi. Sudut pandang para ahli terhadap kreativitas menjadi dasar perbedaan dari definisi kreativitas. Definisi kreativitas tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat didefinisikan kedalam empat jenis dimensi sebagai Four P’s Creativity, yaitu dimensi Person,Proses, Press dan Product sebagai berikut :

  1. Definisi kreativitas dalam dimensi Person

Definisi pada dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut kreatif. Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi

  1. Kreatifitas Dalam Dimensi Proses

Definisi pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif. Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi).

  1. Definisi Kreativitas dalam dimensi Press

Definisi dan pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai berikut :

“The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”

Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.

  1. Definisi Kreativitas dalam dimensi Product

Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif.  Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.

Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa :

“Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda/lebih baik)”.

2.5.2        Pengertian Inovasi

Istilah inovasi dalam organisasi pertama kali diperkenalkan oleh Schumpeter pada tahun 1934. Inovasi dipandang sebagai kreasi dan implementasi ‘kombinasi baru’. Istilah kombinasi baru ini dapat merujuk pada produk, jasa, proses kerja, pasar, kebijakan dan sistem baru. Dalam inovasi dapat diciptakan nilai tambah, baik pada organisasi, pemegang saham, maupun masyarakat luas. Oleh karenanya sebagian besar definisi dari inovasi meliputi pengembangan dan implementasi sesuatu yang baru (dalam de Jong & den Hartog, 2003) sedangkan istilah ‘baru’ dijelaskan Adair (1996).

bukan berarti original tetapi lebih ke newness (kebaruan). Arti kebaruan ini, diperjelas oleh pendapat Schumpeter bahwa inovasi adalah mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu menjadi satu kombinasi. Dengan inovasi maka seseorang dapat menambahkan nilai dari produk, pelayanan, proses kerja, pemasaran, sistem pengiriman, dan kebijakan, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga stakeholder dan masyarakat (dalam de Jong & Den Hartog, 2003).

Ruang lingkup inovasi dalam organisasi (Axtell dkk dalam Janssen, 2003), bergerak mulai dari pengembangan dan implementasi ide baru yang mempunyai dampak pada teori, praktek, produk, atau skala yang lebih rendah yaitu perbaikan proses kerja sehari-hari dan desain kerja. Oleh karenanya, penelitian inovasi dalam organisasi dapat dilakukan dalam 3 level yaitu inovasi level individu, kelompok, dan organisasi (Adair, 1996; de Jong & Den Hartog, 2003).

Jika dilihat dari kecepatan perubahan dalam proses inovasi ada dua macam inovasi yaitu inovasi radikal dan inovasi inkremental (Scot & Bruece, 1994). Inovasi radikal dilakukan dengan skala besar, dilakukan oleh para ahli dibidangnya dan biasanya dikelola oleh departemen penelitian dan pengembangan. Inovasi radikal ini sering kali dilakukan di bidang manufaktur dan lembaga jasa keuangan. Sedangkan inovasi inkremental merupakan proses penyesuaian dan mengimplementasikan perbaikan yang berskala kecil. Yang melakukan inovasi ini adalah semua pihak yang terkait sehingga pendekatan pemberdayaan sesuai dengan model inovasi inkremental ini (Bryd & Brown, 2003; Jones, 2004).

2.5.3  Perilaku inovatif

Pengertian perilaku inovatif menurut Wess & Farr (dalam De Jong & Kemp, 2003) adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal ‘baru’, yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi. Beberapa peneliti menyebutnya sebagai shop-floor innovation (e.g., Axtell et al., 2000 dalam De Jong & Den Hartog, 2003). Pendapat senada dikemukakan oleh Stein & Woodman (Brazeal & Herbert,1997) mengatakan bahwa inovasi adalah implementasi yang berhasil dari ide-ide kreatif.

Bryd & Bryman (2003) mengatakan bahwa ada dua dimensi yang mendasari perilaku inovatif yaitu kreativitas dan pengambilan resiko. Demikian halnya dengan pendapat Amabile dkk (de Jong & Kamp, 2003) bahwa semua inovasi diawali dari ide yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide baru yang terdiri dari 3 aspek yaitu keahilan, kemampuan berfikir fleksibel dan imajinatif, dan motivasi internal (Bryd & Bryman, 2003). Dalam proses inovasi, individu mempunyai ide-ide baru, berdasarkan proses berfikir imajinatif dan didukung oleh motivasi internal yang tinggi.

BAB III

KASUS BANK MIKRO FINANCE, MIKRO BANKING, BPR ,  BPD

3.1     Micro Finance Bank

Salah satu upaya lain untuk meningkatkan pelayanan kepada usaha mikro adalah pembentukan Microfinance bank. Secara konsep pembentukan Microfinance Bank oleh bank ini berupaya menjawab permasalahan yang dimiliki oleh bank umum maupun BPR. Bank ini mempunyai status sebagai bank umum sehingga mempunyai fungsi-fungsi yang lebih daripada BPR, misalnya dalam lalu lintas pembayaran (penggunaan cek dan bilyet giro) maupun pelayanan yang menggunakan valuta asing, ekspor-impor dan lainnya.

Namun demikian pasar bank ini khusus kepada usaha mikro dengan maksimum jumlah kredit tertentu. Sesuai kesepakatanm Bank Indonesia dan Pemerintah dalam rangka program penanggulangan kemiskinan, kredit mikro diberi pengertian kredit sampai dengan Rp 50 juta untuk kegiatan produktif demikian pula untuk segmen kecil yakni dibawah Rp 500 juta untuk produktif.

Struktur pendanaan sebagai bank umum relatif lebih kuat bila dibandingkan dengan BPR. Bank jenis ini akan sangat berkembang jika didukung atau didirikan oleh komunitas Microfinance, seperti asosiasi LSM pengembangan ekonomi, asosiasi koperasi, lembaga keuangan mikro non bank dan lain-lainnya yang bersifat bottom-up. Hal ini tidak menutup kemungkinan ide pendirian dari pemerintah.

Dalam kategori Bank Indonesia, LKM dibagi yang berwujud bank serta non bank. Untuk yang berwujud bank adalah BRI Unit Desa, BPR dan BKD (Badan Kredit Desa). Sedangkan yang bersifat non bank adalah koperasi simpan pinjam (KSP), lembaga dana kredit pedesaan (LDKP), baitul mal wattanwil (BMT), lembaga swadaya masyarakat (LSM), arisan, pola pembiayaan Grameen, pola pembiayaan ASA, kelompok swadaya masyarakat (KSM), credit union, dll.

Meski BRI dan BPR dikategorikan sebagai LKM, namun akibat persyaratan peminjaman menggunakan metode bank konvensional, pengusaha mikro kebanyakan masih kesulitan mengakses. Terlebih bila keuangan mikro yang diidentikkan dengan penanggulangan kemiskinan, apakah kedua institusi tersebut melayani yang miskin ? Pertanyaan ini rasanya agak sulit dijawab.

Dalam rangka mendukung pembentukan Microfinance Bank tersebut memang harus ada dukungan khusus bagi pendiriannya. Sebagai contoh dapat dilakukan suatu pilot proyek pendirian Microfinance Bank di beberapa daerah. Para pendiri sangat diharapkan inisiatif dari pihak-pihak yang berkecimpung dalam Microfinance maupun dari Pemerintah.

3.2     Micro Banking

Tak pernah ada lebih banyak kesempatan daripada saat transisi dari satu era ke era lainnya. Generasi sekarang hidup dalam zaman perubahan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Kita berada di persimpangan jalan antara gelombang kedua (era industri) dan gelombang ketiga (era informasi). Secara serentak kita juga berada di persimpangan jalan gelombang ke-empat (era biologis). Semuanya berubah dengan cepat sehingga mereka yang tidak punya pikiran “oportuni” mungkin tenggelam oleh gelombang perubahan ini. Banyak orang merasa terancam oleh perubahan ini, menjadi sangat takut. Mereka gagal memahami bahwa perubahan adalah salah satu hukum alam. Karena tanpa perubahan kita akan berhenti bertumbuh. Dan bila kita berhenti bertumbuh, kita mulai mati.

Organisasi mencari orang yang berani mengambil inisiatif, orang yang berani mengambil pendekatan inovatif. Mereka yang tidak berani akan dihentikan.
Beberapa hal terpenting yang membantu kita mengubah segalanya adalah :

  1. Ide baru

Pikirkan beberapa ide baru. Karena sembilan dari sepuluh, hanya satu ide baru yang bisa mengubah semua situasi, dsb. Ingatlah orang dengan ide baru adalah orang aneh sampai ide itu berhasil.

  1. Metode baru

Ini meliputi cara baru melakukan sesuatu, cara baru memasarkan, dll.

  1. Pendekatan baru

Bilamana kita menghadapi masalah, kita sering diajarkan untuk mendefinisikannya dahulu, mengumpulkan data, meniru orang lain, dan menerapkan pemecahan pertama yang berhasil. Pendekatan ini sekarang dipertanyakan karena kebanyakan solusi terbatas hanya untuk masalah saat ini saja. Sehingga kita tidak mampu memikirkan solusi peningkatan ekspansif atau memikirkan “kotak” untuk solusi terbaik. Kita mungkin harus mendekati , masalah dari sudut berbeda, yaitu selain berfokus pada masalah, pusatkan pada apa yang kita ingin capai (tujuan akhir).

Misalnya, ada kasus dimana seseorang berutang pada Bank dengan menjaminkan rumahnya. Bank akan menyita propertinya dan dia sangat ketakutan kehilangan rumah dan dinyatakan bangkrut. Setelah memusatkan pada apa yang diinginkannya, akhirnya dia mengusulkan proyek lain pada Bank di mana dia terlibat dan mungkin mampu mengembalikan pinjamannya asalkan Bank setuju memberinya masa pembayaran kembali yang lebih panjang. Setelah melihat proyeknya, Bank yakin akan kemampuannya membayar. Pinjaman itu direstrukturisasi sehingga menghindari penyitaan.

Jadi dekati masalah dari sudut berbeda. Beri nilai tambah pada produk Anda, reposisikan produk anda, pikirkan kotak baru, dll…

3.3     BPR

Visi dan Misi

Visi BPR yaitu menyediakan jasa layanan keuangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) baik di pedesaan maupun di perkotaan. Sedangkan misinya yaitu tercapaimnya industri BPR yang sehat, dipercaya (credible) dan berkelanjutan (sustainable) dengan tetap berorientasi pasar.

Memfasilitasi pembentukan fasilitas jasa bersama untuk BPR, dalam rangka menciptakan :

  1. Efisiensi dalam beberapa kegiatan operasional BPR, seperti investasi IT, penurunan biaya overehead cost, dan pemasaran
  2. Meningkatkan kapasitas BPR untuk mengakses sumber-sumber pendanaan yang lebih murah.
  3. Memperluas jaringan wilayah kegiatan operasional BPR.

Dalam pengembangan Microfinance di Indonesia, khususnya untuk lembaga keuangan bank adalah dengan cara mengembangkan keberadaan BPR sebagai lembaga perbankan yang mempunyai pangsa pasar sebagian besar adalah pengusaha mikro. Dari sisi jumlah dan penyebarannya, BPR tetap cukup luas melayani nasabah-nasabah di pelosok-pelosok pedesaan maupun di wilayah perkotaan. Namun demikian, jika dilihat dari volume kredit yang disalurkan masih relatif sangat kecil sekitar kurang dari 2% jika dibandingkan dengan total kredit perbankan.

Di sisi yang lain, Bank Umum yang mempunyai pendanaan relatif besar belum terlampau banyak yang menggarap sektor mikro. Hal ini dipahami karena Bank Umum mempunyai kendala jangkauan pelayanan, SDM yang terbatas dalam memahami karakteristik kredit mikro maupun orientasi bisnis bank itu sendiri. Banyak upaya telah dilakukan untuk “mempertemukan” Bank Umum dengan BPR dalam rangka menciptakan sinergi yang saling menguntungkan baik melalui linkage program, refinancing dan cara atau bentuk kerjasama lainnya. Namun, kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa kerjasama tersebut tidak selamanya dapat dilaksanakan dan masih terdapat kendala di lapangan.

Kondisi TI – BPR

Sebagian besar BPR masih sangat tertinggal dalam pemanfaatan TI dalam operasionalnya, terutama BPR yang volume usahanya masih dibawah Rp 10 miliar (84%). Hana sebagian kecil BPR saja yang telah memanfaatkan TI secara optimal, yaitu BPR dengan volume usaha  < Rp 100 miliar (0,9%). Mulai tahun 2006, semua BPR telah diwajibkan oleh BI untuk menyampaikan laporan bulanan secara online, bahkan unutk BPR dengan total aset sebesar Rp 10 miliar ke atas wajib menjadi peserta SID. Hal tersebut mendorong BPR untuk segera meningkatkan kualitas TI-nya.

Permasalahan Dalam Pengembangan TI-BPR

  1. Kondisi modal yang sangat rendah
  2. Kurangnya dukungan dari pemilik BPR untuk mengembangkan TI.
  3. Terbatasnya ”IT-Provider” yang secara profesional mampu melayani kebutuhan BPR dengan harga terjangkau.
  4. Banyak IT-Provider yang menawarkan produknya kepada BPR dengan kualitas yang belum jelas, sehingga sering merugikan BPR.

Mungkin ada BPR dengan volume usaha sangat besar akan mampu menjadi anggota ATPI dalam jangka menengah. Umumnya BPR besar tersebut telah menjangkau seluruh wilayah propinsi. Sedangkan BPR yang saat ini masih memiliki volume usaha menengah, diharapkan akan mampu mengembangkan usahanya secara konsisten, sehingga dalam jangka panjang akan mampu menjadi anggota ATPI. Untuk BPR dengan skala usaha kecil, diperlukan arsitektur teknologi tersendiri yang mungkin dapat dikembangkan secara lokal, sehingga mereka dapat mengembangkan fasilitas jasa bersama secara terbatas dalam rangka efisiensi usaha.

3.4     BPD

Penggunaan teknologi maju dalam perbankan yang kesehariannya harus melayani nasabah secara cepat, tepat dan nyaman. Persaingan bisnis sudah semakin ketat terutama bisnia lokal, oleh karena itu perlu adanya langkah maju berbagai alternatif antara lain go internasional. Teknologi sistem informasi di dunia perbankan bukan lagi hanya merupakan bagian dari kiprah bisnis tetapi dengan dukungan penataan ketentuan – ketentuan pendukung TIS mutlak keberadaannya.

Teknologi BPD mendatang :

  1. Memiliki Core banking system yang terintegrasi
  2. Transaksi antar bank BPD dapat dilakukan secara online realtime.
  3. Memiliki jaringan switching ATM yang sama atau terintegrasi.
  4. Pengembangan aplikasi, teknologi dan produk perbankan yang terpadu.

Pengembangan Teknologi BPD

Langkah-langkah yang akan diambil :

  • Memperluas jangkauan BPD dalam pelayanan jaringan ATM ”Online” seperti :
  1. Penarikan tunai
  2. Transfer antar rekening BPD
  3. BPD yang telah online ATM bersama : 24 BPD
  4. BPD yang telah online lintas Arta : 22 BPD
  • BPD yang belum online sedang mempersiapkan keikutsertaannya dalam jaringan online melalui jaringan ATM bersama.
  • Perluasan keanggotaan BPD  dalam SISKOHAT menghadapi kemungkinan kesertaan dalam SISKOHAT (14 BPD tergabung).

Produk dan Core Banking

  1. 11 BPD memiliki core banking sama dengan switching yang dikembangkan bersama sehingga ke 11 BPD ini berpotensi besar untuk mengoperasikan online transfer realtime dan produk bersama lainnya.
  2. 22 BPD menggunakan jaringan on line lintasarta
  3. 24 BPD telah bergabung dengan ATM bersama
  4. 4 BPD melakukan 4 pelayanan transaksi on line.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1    KESIMPULAN

Sukses suatu organisasi  sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi itu untuk beradapatasi pada perubahan lingkungan strategik yang mempengaruhi kehidupan organisasi. Organisasi yang terus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akan dapat tumbuh dan berkembang. Sebaliknya organisasi yang tidak beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategik akan mengalamim kemunduran.

Oleh sebab itu sangat perlu bagi organisasi untuk memahami perubahan lingkungan strategik tersebut. Perubahan lingkungan strategik menuntut adanya perubahan paradigma di dalam mengelola organisasi. Ahli pengembangan SDM dan organisasi yang berkecimpung di dalam pengelolaan perusahaan, harus memahami pergeseran paradigma bisnis agar supaya di dalam memberikan pelayanan kepada organisasi  tempat dia bekerja dapat mengambil tindakan yang tepat.

Merebut pasar domestik dengan mengembangkan karya-karya kreatif adalah pilihan pada saat pasar dunia lesu. Bagi dunia usaha, termasuk dunia perbankan diperlukan suatu terobosan baru yang efektif untuk membentengi krisis global yang melanda. Pilihan yang paling efektif adalah dengan kreatifitas dan inovasi karena permintaan terhadap produk atau jasa yang kreatif dan inovatif  akan terus berkembang walau dalam keadaan krisis ekonomi.

4.2    SARAN

Keadaan krisis ekonomi memang bisa dicegah dengan berbagai kebijakan–kebijakan ekonomi baik kebijakan fiskal maupun moneter. Namun bila krisis harus terjadi, dunia usaha perbankan harus tetap berjalan dan berkembang dengan lebih baik lagi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan ide-ide, pemikiran-pemikiran, terobosan-terobosan yang kreatif , inovatif dan unik sehingga permintaan terhadap produk/jasa perbankan tetap bahkan meningkat walaupun dalam keadaan krisis global serta peningkatan peningkatan kualitas service oleh perbankan. Untuk mendapatkan ide kreatif tidak harus dari seorang profesional tetapi juga dari seorang karyawan seperti office boy atau cleaning service, sebab terkadang mereka punya ide cemerlang tetapi tidak disalurkan hanya karena mereka pegawai rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Byrd, J & Brown, P.L. 2003. The Innovation Equation. Building Creativity and Risk

Taking in Your Organization. San Fransisco: Jossey-Bass/Pfeiffer. A Wiley Imprint

De Jong, J & Hartog, D D. 2003. Leadership as a determinant of innovative behaviour. A

Conceptual framework. http://www.eim.net/pdf-ez/H200303.pdf. 21 April 2006

http://studymicrofinance.blogspot.com/2008/11/optimalisasi-customer-based-di-bri-yang.html008

http://www.kompas.com

http://www.infoskripsi.com/Free-Resource/Konsep-Perilaku-Pengertian-Perilaku-Bentuk-Perilaku-dan-Domain-Perilaku.html

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: