manajemen strategi dan ekonomi islam di indonesia

Strategi adalah faktor penting dalam pengorganisasian .yang merupakan sebuah proses dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Ekonomi Islam akan berkembang dengan pesat apabila ada sebuah grand design atau blue print sebagai acuan bagi semua stake holder. Hal tersebut akan berjalan secara sistematis dan komprehensif apabila ada sinergitas diantara semua pihak sehingga tujuan dari ekonmi Islam yang sebenarnya akan tercapai.

Ekonomi merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan manusia, karena ini menyangkut perilaku manusia dalam mengaktualisasikan diri untuk mencapai tujuan hidupnya. Islam merupakan fitrah manusia, karena itu ia bersifat holistik (syumul). Dalam Islam, ekonomi dibahas pada bagian tersendiri, fiqh mu’amalah. Jadi jelaslah sudah bahwa islam memilki ‘aturan main’ tersendiri untuk masalah ekonomi.
Kalau kita perhatikan prestasi ekonomi Indonesia sungguh tidaklah menggembirakan. Kemiskinan dibarengi pengangguran yang tertimpa pada Indonesia seolah-olah menjadi sebuah karakteristik yang melekat pada negara-negara berpenduduk muslim.

SISTEM MANAJEMEN STRATEGIS

Sistem manajemen strategis adalah proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi untuk mewujudkan visi secara terus menerus secara terstruktur. Strategi adalah pola tindakan terpilih untuk mencapai tujuan tertentu. Pada mulanya, sistem manajemen strategis bercirikan: mengandalkan anggaran tahunan, berjangka panjang dan berfokus pada kinerja keuangan. Penerapan sistem manajemen strategis yang demikian di banyak perusahaan swasta mengalami kegagalan. Sebab-sebabnya antara lain: hanya 25% manajer yang memiliki insentif yang terhubung ke strategi, 60% perusahaan tidak menghubungkan anggarannya ke strategi, 85% dari tim eksekutif menghabiskan waktu kurang dari satu jam untuk membahas strategi tiap bulan, dan hanya 5% pegawai yang memahami strategi.

Namun sistem manajemen strategis tetap diperlukan karena perusahaan dituntut untuk berkembang secara terencana dan terukur, sehingga memerlukan peta perjalanan menghadapi masa depan yang tidak pasti, memerlukan langkah-langkah strategis, dan perlu mengarahkan kemampuan dan komitmen SDM untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Balanced scorecard yang dikembangkan oleh Norton dan Kaplan memberikan solusi terhadap tuntutan ini. Peran balanced scorecard dalam sistem manajemen strategis adalah: memperluas perspektif dalam setiap tahap sistem manajemen strategis, membuat fokus manajemen menjadi seimbang, mengaitkan berbagai sasaran secara koheren, dan mengukur kinerja secara kuantitatif.

Penggunaan balanced scorecard dalam konteks perusahan swasta ditujukan untuk menghasilkan proses yang produktif dan cost effective, menghasilkan financial return yang berlipat ganda dan berjangka panjang, mengembangkan sumber daya manusia yang produktif dan berkomitmen, mewujudkan produk dan jasa yang mampu menghasilkan value terbaik bagi customer/pelanggan.

Balanced scorecard diyakini dapat mengubah strategi menjadi tindakan, menjadikan strategi sebagai pusat organisasi, mendorong terjadinya komunikasi yang lebih baik antar karyawan dan manajemen, meningkatkan mutu pengambilan keputusan dan memberikan informasi peringatan dini, serta mengubah budaya kerja. Potensi untuk mengubah budaya kerja ada karena dengan balanced scorecard, perusahaan lebih transparan, informasi dapat diakses dengan mudah, pembelajaran organisasi dipercepat, umpan balik menjadi obyektif, terjadwal, dan tepat untuk organisasi dan individu; dan membentuk sikap mencari konsensus karena adanya perbedaan awal dalam menentukan sasaran, langkah-langkah strategis yang diambil, ukuran yang digunakan, dll.

Kelebihan sistem manajemen strategis berbasis balanced scorecard dibandingkan konsep manajemen yang lain adalah bahwa ia menunjukkan indikator outcome dan output yang jelas, indikator internal dan eksternal, indikator keuangan dan non-keuangan, dan indikator sebab dan akibat. balanced scorecard paling tepat disusun pada saat-saat tertentu, misalnya ketika ada merjer atau akuisisi, ketika ada tekanan dari pemegang saham, ketika akan melaksanakan strategi besar dan ketika organisasi berubah haluan atau akan mendorong proses perubahan. balanced scorecard juga diterapkan dalam situasi-situasi yang rutin, antara lain: pada saat menyusun rencana alokasi anggaran, menyusun manajemen kinerja, melakukan sosialisasi terhadap kebijakan baru, memperoleh umpan balik, meningkatkan kapasitas staf.

Adakah kemungkinan kegagalan dalam menerapkan balanced scorecard? Menyusun balanced scorecard bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak organisasi gagal membuat balanced scorecard karena berbagai sebab. Sebab-sebab itu antara lain: tidak ada komitmen pimpinan, terlalu sedikit staf terlibat, scorecard disimpan saja, proses penyusunan yang lama dan sekali jadi, menganggap balanced scorecard sebagai sebuah proyek, kesalahan memilih konsultan, atau menggunakan balanced scorecard hanya untuk keperluan pemberian kompensasi.

Kaplan R.S. & Norton, D.P.; The Balanced Scorecard, Translating Strategy into Action, 1996

TRANSFORMASI AUDIT INTERNAL MENUJU TERWUJUDNYA GOOD CORPORATE GOVERNANCE

GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundangan, yang dapat membantu tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan berdasarkan asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Untuk itu, salah satu manfaat dari penerapan GCG, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pola kerja perusahaan.

Sistem pengendalian internal merupakan bagian dari praktik GCG, juga praktik manajemen, dimana didalamnya mencakup pengawasan yang memadai, etika bisnis, independensi, pengungkapan yang akurat dan tepat waktu, akuntabilitas dari seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengelolaan perusahaan, serta mekanisme untuk memastikan adanya tindak lanjut yang seksama jika terjadi pelanggaran dalam perusahaan.

Dengan keberadaan fungsi audit internal yang efektif, dapat tercipta mekanisme pengawasan untuk memastikan bahwa sumber daya yang ada dalam perusahaan telah digunakan secara ekonomis dan efektif, dan pengendalian yang ada dalam perusahaan dapat memberikan kepastian lebih tinggi bahwa informasi yang dihasilkan terpercaya. Audit internal juga dapat menjadi barometer standar perilaku yang berlaku di perusahaan melalui aktivitas pengawasan yang dilakukan secara berkesinambungan, yang mendorong terciptanya iklim kerja yang efisien. Seiring dengan perbaikan dalam proses internal tersebut, keyakinan investor (termasuk kreditur) terhadap proses pengelolaan perusahaan juga akan meningkat.

Audit internal berbeda dengan audit eksternal yang memeriksa dan memberikan opini terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan. Pada banyak perusahaan, audit internal biasa disebut dengan unit SPI (sistem pengawasan intern), yang umumnya banyak berperan untuk mengecek apakah unit lain di dalam perusahaan telah taat menerapkan prosedur. Saat ini, audit internal tidak selalu berarti adanya unit khusus, tetapi lebih menekankan pada keberadaan fungsinya, dan bahkan pada perkembangan terakhir untuk menjalankan fungsi audit internal dimungkinkan bekerjasama dengan pihak ketiga.

Selain itu, juga terjadi perkembangan dalam peran yang dibawakannya, yaitu dari sekedar unit yang mengecek kepatuhan, menjadi sebuah fungsi yang berperan aktif sebagai mitra bagi manajemen dalam mendukung penerapan GCG dengan melakukan evaluasi dan perbaikan proses kerja perusahaan yang berpengaruh pada penerapan nilai perusahaan dan terjaganya akuntabilitas; membantu menjaga efektivitas pengendalian dengan melakukan evaluasi terhadap efektivitas dan efisiensi serta memberikan input untuk perbaikan yang berkesinambungan; serta melakukan identifikasi dan evaluasi risiko signifikan yang dihadapi perusahaan dan memberikan masukannya untuk perbaikan sistem pengendalian dan manajemen risiko. Tuntutan peran ini juga berpengaruh pada kebutuhan kompetensi auditor internal yang sekarang menjadi multi disiplin.

Pertanyaan berikutnya, apakah memang perusahaan memerlukan fungsi audit internal? Tentu saja jawabannya YA; tetapi mengapa fungsi tersebut diperlukan? Coba kita flashback ke beberapa tahun lalu, sewaktu terungkapnya berbagai skandal dunia korporasi seperti yang terjadi di Enron, Tyco dan WorldCom di Amerika, Parmalat di Italia, HIH Insurance di Australia, atau Bank Global di Indonesia – yang melibatkan adanya aktivitas pembayaran dan pengadaan yang tidak wajar, investasi yang tidak patut, kasus korupsi dan suap, serta fraud lainnya. Skandal tersebut mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi investor dan publik pada umumnya. Perusahaan yang terlihat sehat dengan informasi keuangannya yang menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa, ternyata tidak lebih dari rekayasa pelaporan dan pengungkapan. Kondisi ini disebabkan oleh lemahnya pengendalian yang ada dalam perusahaan dan menyebabkan perusahaan tidak dikelola secara efisien, sehingga secara jangka panjang berpengaruh pada rendahnya kinerja dan pertumbuhan perusahaan. Ditambah lagi dengan masih minimnya pengungkapan informasi yang disampaikan kepada publik mengenai kinerja dan efektivitas tingkat pengendalian perusahaan, sehingga banyak inefesiensi yang tidak tertangkap dan terefleksikan pada informasi keuangan dan catatan penjelasannya, serta berujung pada menurunnya kepercayaan investor terhadap integritas informasi keuangan yang diungkapkan oleh perusahaan. Semuanya menunjukkan pentingnya keberadaan sebuah mekanisme yang dapat membantu memastikan efektivitas pengendalian di setiap aktivitas dan proses penyelenggaraan dalam perusahaan.

Di negara maju, fungsi audit internal merupakan sebuah keharusan dalam pengelolaan perusahaan, bahkan di beberapa negara, ketiadaan fungsi tersebut diartikan sebagai defisiensi atau kelemahan signifikan dalam sistem pengendalian perusahaan.

Saat ini di Indonesia, perusahaan publik, bank dan BUMN wajib memiliki unit audit internal untuk membantu memastikan sistem pengendalian di perusahaan. Pedoman Umum GCG Indonesia juga merekomendasikan agar setiap perusahaan memiliki fungsi pengawasan internal yang merupakan bagian dari sistem pengendalian internal yang handal, dan bertugas membantu Direksi memastikan pencapaian tujuan dan kelangsungan usaha, dengan melakukan evaluasi pelaksanaan program perusahaan, memberikan saran untuk memperbaiki efektivitas proses pengendalian risiko, dan melakukan evaluasi kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perundangan.

sumber :Achmad Daniri, Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance
Angela Indirawati Simatupang, Anggota Tim Penyusun Pedoman Umum GCG.

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Spritual Auditor Terhadap Kinerja Auditor Dalam Kantor Akuntan Publik

ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kecerdasan emosional dan spiritual terhadap kinerja auditor dalam Kantor Akuntan Publik. Pengukuran kecerdasan emosional dan kinerja menggunakan instrumen kuisioner yang di adopsi dari Cooper dan Sawaf (1998), sedangkan untuk pengukuran kecerdasan spiritual menggunakan instrumen yang diadopsi dari Khavari (2000). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Berganda, uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emsional dan spiritual auditor secara bersama-sama terhadap kinerja auditor, dan uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan spiritual auditor secara terpisah terhadap kinerja auditor.
Hasil analisis meunujukkan bahwa kecerdasan emosional dan spiritual auditor berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor baik secara bersama-sama ataupun secara terpisah. Akan tetapi kecerdasan spiritual memberikan kontribusi dan pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja auditor dibandingkan dengan kecerdasan emosional auditor (Beta 0,744 > Beta 0,251). Berdasarkan hasil analisis, juga menunjukkan pengaruh yang sangat besar dalam mendorong kinerja optimal auditor yaitu 76,8% (R Square = 0,768). Sedangkan 23,2% dapat di sebabkan oleh variabel lain di luar penelitian ini seperti: Kecerdasan intelektual auditor, sarana dan prasarana dalam Kantor Akuntan Publik dan lain-lain. Besarnya pengaruh tersebut, dapat disebabkan, dalam tempat kerja selain permasalahan tekhnis pekerjaan, juga banyak terdapat permasalahan yang menyangkut konflik dan dilemma etis, dan berbagai ragam persolaan yang terkait dengan kondisi mental kejiwaan auditor. Sehingga dalam menyelesaikan permasalahan tersebut diatas harus lebih banyak dengan memakai pendekatan kecerdasan emosional dan spiritual dari pada keahlian intelektual, karena permasalahan tersebut tidak dapat di atasi hanya dengan kecerdasan intelektual auditor semata.

Latar Belakang
Semakin mengglobalnya arus informasi dan transportasi yang disertai makin meningkatnya pula perdagangan dipelbagai belahan dunia, yaitu dengan dibentuknya berbagai macam bentuk perjanjian perdagangan multilateral dan internasional yang bersifat bebas (GATT,WTO,AFTA,APEC).Mengakibatkan banyak terjadinya perpindahan tenaga kerja asing dari negara maju seperti: Eropa, Jepang dan Amerika menuju negara lain di Asia termasuk di Indonesia. Hingga saat ini tidak dapat kita pungkiri bahwa globalisasi ekonomi dibidang liberalisasi perdagangan telah mulai banyak membawa pesaing ataupun tenaga ahli yang kompeten dibidangnya dari pelbagai mancanegara memasuki pasar domestik dengan kandungan pengetahuan tingkat dunia.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, dan termasuk dalam salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia, serta posisi yang potensial dalam kawasan Asia Tenggara, menjadikan Indonesia sebagai ladang bisnis yang menjanjikan sebagai sasaran pasar berbagai produk dan jasa. Sehingga diperkirakan ketika terwujudnya perjanjian multi lateral AFTA (Asean Free Trade Center Area) dan APEC, Indonesia akan dibanjiri oleh banyak produk dan pekerja (auditor) profesional dari luar negeri.

Dalam menghadapi Indonesia baru yang mampu bersaing dalam era globalisasi yaitu AFTA dan APEC, diperlukan Sumber Daya Manusia, terutama sekali auditor dalam negeri yang berkualitas, yang diharapkan mampu bersaing dengan auditor dari luar negeri. Akan tetapi jika kita melihat praktek yang terjadi tidaklah demikian. Hal ini tercermin dari sikap pemerintah Indonesia yang lebih suka menggunakan jasa auditor asing, yang dipandang lebih mampu secara teknis dan indepeden dalam melaksanakan jasa audit terhadap beberapa perusahaan yang terkena kasus. Tantangan lain yang harus dihadapi dalam abad 21 maraknya terjadi skandal manipulasi dan kecurangan atas laporan keuangan, serta berbagai kasus pelanggaran etika lainnya yang secara langsung atau tidak langsung melibatkan para auditor didalamnya, baik dalam maupun luar negeri1. Berbagai bukti tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa adanya: 1).Penurunan kualitas citra Sumber Daya Manusia akuntan atau auditor, 2).Persaingan antara auditor dan Kantor Akuntan Publik dalam dan luar negeri yang sudah semakin ketat, dan 3).Mulai adanya peralihan kepercayaan terhadap kinerja auditor dan Kantor Akuntan Publik di Indonesia. Dimana masalah-masalah tersebut harus segera diatasi.
Memasuki abad 21, legenda atau paradigma lama tentang anggapan bahwa IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan, yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan dan kesuksesan kinerja Sumber Daya Manusia, digugurkan oleh munculnya konsep atau paradigma kecerdasan lain yang ikut menentukan terhadap kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Hasil survei statistik dan penelitian yang dilakukan Lohr, yang ditulis oleh Krugman dalam artikel “On The Road on Chairman Lou“ (The New York Times 26/6/1994), menyebutkan bahwa IQ ternyata sesungguhnya tidak cukup untuk menerangkan kesuksesan seseorang. Ketika skor IQ dikorelasikan dengan tingkat kinerja dalam karier mereka, taksiran tertinggi untuk besarnya peran selisih IQ terhadap kinerja hanyalah sekitar 25%, bahkan untuk analisis yang lebih seksama yang dilakukan American Psycological Press (1997) angka yang lebih tepat bahkan tidak lebih dari 10% atau bahkan hanya 4%. Hal ini berarti bahwa IQ paling sedikit tidak mampu 75%, atau bahkan 96% untuk menerangkan pengaruhnya terhadap kinerja atau keberhasilan seseorang. Serta menurut penelitian yang dilakukan Goleman menyebutkan pengaruh IQ hanyalah sebesar 20% saja, sedangkan 80% dipengaruhi oleh faktor lain termasuk di dalamnya EQ. Sehingga dengan kata lain IQ dapat dikatakan gagal dalam menerangkan atau berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang (Goleman, 2000).
1 Kasus besar yang paling menarik perhatian dan menimpa dunia akuntansi di awal abad 21 adalah kasus manipulasi laporan keuangan dan persediaan pada Enron corp. dengan KAP multi nasional Arthur Andersen & Partners yang merupakan anggota dari the big five atau KAP dengan salah satu jaringan dan omzet pendapatan terbesar di seluruh dunia, yang berakibat bubarnya Arthur Andersen & partners. Di Indonesia juga pernah terjadi hal yang sama yaitu pada kasus PT.Kimia Farma Tbk, terjadinya overstated pada laba bersih per 31 Desember 2001.
2 SQ dapat dinamakan juga dangan Religius Quotient (kecerdasan religius atau kecerdasan ruhaniah), karena dalam penerapannya SQ adalah tidak dapat dipisahkan dengan keyakinan beragama seseorang walaupun antar agama mempunyai konsep yang berbeda tentang bentuk SQ, akan tetapi esensinya sama yaitu keyakinan akan keberadaan dan peran serta Tuhan dalam setiap aktivitas kehidupan manusia.
3 Integritas mengharuskan auditor jujur dan terus terang dalam batasan kerahasiaan obyek pemeriksaan Kode Etik Akuntan Indonesia.Prinsip objektivitas menetapkan suatu kewajiban bagi auditor untuk tidak memihak, jujur secara intelektual dan bebas dari konflik kepentingan.Pedoman Kode Etik Akuntan Indonesia.Appendix A 1994. hal:346.
4 Prof.Dr.Muhammad Yacub M.Ed. dalam jurnalnya yang berjudul: “Suatu opini mengenai reformasi sistem pendidikan nasional” berpendapat dan juga menekankan akan pentingnya reformasi dan perubahan sistem pendidikan nasional yang mensinergikan IQ, EQ, CQ dan SQ dalam segala bidang mulai dari filsafat/tujuan pendidikan sampai ke pemerintahan dan manajemen pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan substansi pengajaran secara nasional, regional dan lokal.Selengkapnya lihat http:// http://www.depdiknas.org. 2001
Terjadinya pergeseran atau perubahan paradigma dimana kesuksesan seseorang tidaklah lagi ditentukan oleh IQ atau kemampuan tekhnis, ICCA mengeluarkan satuan tugas khusus “The Skill for 21 century task force” untuk meneliti masalah yang berhubungan dengan perubahan kualifikasi para akuntan di abad 21. Satuan tugas tersebut menemukan bahwa di abad 21 ini para akuntan (auditor) yang dibutuhkan, haruslah memiliki beberapa kompetensi dan kualifikasi antara lain, sebagai berikut (Bulo, 2002:22):
• Keterampilan akuntansi: Kemampuan untuk menganalisa data keuangan, pengetahuan perpajakan, audit, sistem teknologi informasi dan pengetahuan tentang pasar modal.
• Keterampilan komunikasi: Kesanggupan mendengar dengan efektif, berbicara dan menulis dengan jelas, mengerti kebutuhan orang lain, kemampuan mengungkapkan, mendiskusikan mempertahankan pandangan, memiliki empati dan mampu berhubungan dengan orang dari negara, budaya dan latar belakang sosio ekonomi yang berbeda.
• Keterampilan negosiasi.
• Keterampilan interpersonal: Untuk memotivasi dan mengembangkan orang lain, mendelegasikan tugas, menyelesaikan konflik, kepemimpinan, mengelola hubungan dengan orang lain dan berinteraksi dengan berbagai macam orang.
• Kemampuan intelektual: Logika, deduktif dan pemikiran abstrak, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dan sanggup menyelesaikan dilema etis.
• Pengetahuan manajemen dan organisasi: Untuk memahami aktivitas organisasi bisnis pemerintah, organisasi nirlaba, memahami budaya bisnis, dinamika kelompok, serta manajemen sumber daya.
• Atribut personel: Integritas, keadilan etika dan komitmen untuk, belajar seumur hidup karena product life cycle pengetahuan yang semakin pendek.
Di Indonesia, Ainun Na’im (1996) dalam Laela (1997) dalam makalahnya yang berjudul “Perubahan faktor-faktor kontekstual profesi akuntan publik” menyebutkan dalam memasuki profesi akuntansi, dan dalam menghadapi perubahan tantangan globalisasi, para akuntan Indonesia khususnya, diharuskan memiliki suatu competitive advantage skill yang lebih dibandingkan akuntan lain untuk dapat tetap mampu bertahan (exist) dalam menjalankan profesinya dimasa depan, diantaranya yaitu kemampuan intelektual, interpersonal dan emosional.

Sumber: Na’im (1996) dalam Laela (1997).

the hardness of competition make many people to have competitive excellent

Number of unemployment is more and more because the number of job seekers is not proportional with number of field of endeavour. In Indonesia, unemployment is more and more because discharge of work (PHK), after the price of oil (BBM) is more expensive at 1 Oktober  2005. Economic observers estimate discharge of work will be reach about 1 – 2.5 million people, but government estimate it about 1 million (Bisnis Indonesia, 21/10/2005).

From data BPS (2006), about 60.4 % the number of job seekers in Indonesia is concentrate in Java, 19,94 % in Sumatra and at least in Papua about 2,07 %. It is explain that Java is still central growth of economics, but with area autonomy the development out of Java should have happened. But in fact, not all of development is moving to region. Beside that, supplying funds in education about 20 % from number of APBN every year, should be change the quality of human resource.

eemore+++

Peran E-Banking dalam Pemasaran Produk Asuransi Syariah pada PT. BNI Life Insurance Cabang Syariah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Permasalahan yang sampai saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah krisis keuangan yang berdampak pada krisis ekonomi secara berkepanjangan. Hal ini dipengaruhi oleh penerapan suku bunga sebagai sistem ribawi, bahkan berpotensi menjadi economic trouble maker yang melahirkan krisis keuangan dan moneter, krisis pasar saham, dan krisis di lembaga keuangan lainnya yang berpengaruh negatif pada kehidupan sektor riil. Tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan asuransi memiliki peranan penting yang dibutuhkan mengingat bahwa layanan jasa asuransi dapat memberikan perlindungan bagi para konsumennya.

Iklim yang mulai merebak pada era 1990-an ini ikut mendorong munculnya bisnis yang menggunakan sistem sesuai syariah, terutama di sektor keuangan, begitu pula dengan perusahaan asuransi. Asuransi sebagai lembaga keuangan nonbank, terorganisir secara rapi dalam bentuk sebuah perusahaan yang berorientasi pada aspek bisnis kelihatan secara nyata pada era modern.

Asuransi syariah di Indonesia merupakan sebuah cita-cita yang telah dibangun sejak lama, dan telah menjadi sebuah lembaga asuransi modern yang siap melayani umat Islam Indonesia dan bermitra dengan lembaga asuransi konvensional. Sistem dan akad yang digunakan oleh asuransi syariah berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang bercirikan keadilan dan keterbukaan serta terbebas dari unsur haram yaitu gharar (ketidakpastian), maisir (judi), dan riba (tambahan / bunga).

Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya : “sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah SWT melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (an-Nahl / 16 : 90).

+++

LEBAH Dalam perspektif Islam

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, pohon-pohon dan tempat hunian manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempulah jalan tuhanmu yang dimudahkan (bagimu)’. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang dapat menyembuhakan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl : 68-69).

++++

KEBIJAKAN DEVIDEN (DEVIDEN POLICY )

Pengertian

Kebijakan deviden merupakan  bagian yang  tidak dapat dipisahan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi, kebijakan deviden adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan dating.

Pendapat Kebijakan Deviden

  1. Pendapat tentang ketidakrelevanan deviden (irrelevant theory)

Pendapat ini dikemukakan oleh Modigliani dan Miller, yang memberikan argumentasi bahwa pembagian laba dalam bentuk deviden tidak relevan dengan peningkatan kemakmuran atau kekayaan pemegang saham. Karena deviden pay out ratio hanya merupakan bagian kecil dari keputusan pendanaan perusahaan, nilai perusahaan ditentukan tersendiri oleh kemampuan aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba atau kebijakan investasi.

  1. Pendapat tentang relevansi deviden (relevant theory)

Deviden adalah relevan untuk kondisi yang tidak pasti, investor dapat dipengaruhi oleh kebijakan deviden.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden

  1. Kebutuhan dana bagi perusahaan

Semakin besar kebutuhan dana perusahaan berarti semakin kecil kemampuan untuk membayar deviden. Penghasilan perusahaan akan digunakan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dananya (semua proyek investasi yang menguntungkan) baru sisanya untuk pembayaran deviden.

  1. Likuiditas perusahaan

Likuiditas perusahaan merupakan salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan deviden. Karena deviden merupakan arus kas keluar, maka semakin besar jumlah kas yang tersedia dan likuiditas perusahaan, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar deviden. Apabila manajemen ingin memelihara likuiditas dalam mengantisipasi adanya ketidakpastian dan agar mempunyai fleksibilitas keuangan, kemungkinan perusahaan tidak akan membayar deviden dalam jumlah yang besar.

  1. Kemampuan untuk meminjam

Apabila perusahaan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan pinjaman, hal ini juga merupakan fleksibilitas keuangan yang tinggi sehingga kemampuan untuk membayar dividen juga tinggi. Jika perusahaan memerlukan pendanaan melalui hutang, manajemen tidak perlu mengkhawatirkan pengaruh dividen kas terhadap likuiditas perusahaan.

  1. Pembatasan dalam perjanjian hutang

Pembatasan digunakan oleh para kreditur untuk menjaga kemampuan perusahaan tersebut membayar hutangnya.

  1. Pengendalian Perusahaan

Apabila suatu perusahaan membayar deviden yang sangat besar, maka perusahaan mungkin menaikkan modal di waktu yang akan datang melalui penjualan sahamnya untuk membiayai kesempatan investasi yang menguntungkan. Dengan bertambahnya jumlah saham yang beredar, ada kemungkinan kelompok pemegang saham tertentu tidak lagi dapat mengendalikan perusahaan karena jumlah saham yang mereka kuasai menjadi berkurang dari seluruh jumlah saham yang beredar.

Stabilitas Deviden

Adalah pembayaran deviden yang satbil dalam jangka waktu yang lama, sedang kebalikannya adalah pembayaran deviden yang sesuai dengan persentase tetap dari penghasilan perusahaan. Apabila semua factor antara dua perusahaan sama tetapi pembayaran devidennya berbeda maka harga saham perusahaan yang membayar deviden secara stabil akan lebih tinggi daripada harga saham perusahaan yang membayar deviden tidak stabil.

Deviden Saham (Stock Deviden) dan Pemecahan Saham   (Stock Split)

Deviden Saham (Stock Deviden) dan Pemecahan Saham   (Stock Split) seringkali digunakan untuk tujuan berbeda. Dalam pengertian ekonomi hanya terdapat perbedaan kecil diantara keduanya. Namun dalam pengertian akuntansi, kedua istilah di atas memiliki perbedaan besar. Prinsip-prinsip akuntansi memperlakukan distribusi saham yang lebih dari 25% saham yang beredar sebagai pemecahan saham, sedangkan distribusi yang lebih kecil dari jumlah itu dapat digolongkan sebagai stock deviden.

Pembelian Kembali Saham (Repurchase of Stock)

Jika perusahaan memiliki kelebihan dana tetapi mempunyai sedikit kesempatan investasi, maka kelebihan dana tersebut dapat didistribusikan dengan membeli kembali saham perusahaan atau meningkatkan pembayaran deviden. Dengan pembelian kembali saham, maka saham yang beredar menjadi lebih sedikit sehingga EPS (earning per share) dan dividen per lembar saham segera meningkat. Sebagai hasilnya harga pasar perlembar saham akan naik juga.

Ada dua metode pembelian kembali saham yang sering digunakan yaitu penawaran tender sendiri (self tender offer) dan pembelian saham di pasar terbuka (open market purchase).

Referensi

Bambang Riyanto, 1998, Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan, Edisi 5, BPFE Yogyakarta

Brigham, Daves, 2004, Intermediate Financial Management, edisi 8

Martono & Agus H, 2001, Manajemen Keuangan, Cet pertsama, Ekonisia Jogjakarta

Langkah Perjalanan

ku terombang ambing dalam langkahku

dimanakah ku temukan terang itu….

dimanakah ku dapatkan cahaya itu…

dimanakah ku gapai citaku….

dimanakah ku labuhkan cintaku…

tlah lama ku arungi bahtera hidup ini

namun tak ku dapati kasih suci abadi….

aku dalah musfir…

yang dahaga seteguk kehausan cinta dan kasih sayang…

sang kuntum bunga padang pasir

semerbak harum nan indah dalam jambangan….

hanyalah cintanya pelepas dahagaku….

Yaa ilahii…

tertundukku dihadap-MU

mengharap ridha-MU

tuk sebuah pertemuan

raut wajah nan jelita…

dalam cinta kasih yang abadi…

Ku pandang bulan sabit sangat jelas dibalik gerimis senja ini

tak ada pandagan yang lepas…

malam adalah sudah pasti, namun gerimis makin deras dalam langkah yang masih mencari

ada lumpur-lumpur disana…..dan air  yang terus mengalir

makin meresap dalam sesaat mengharap…..

warna-warna malam kian menari

hembusan halus menggigilkan….

ranting-ranting membisukan….

tanpa daun-daun berjatuhan….

air terus menetes dalam daun-daun

terus meresap dan hilang dalam hamparan

seperti gerimis di senja ini….

titik airnya menjatuhkan, meruntuhkan bunga^^ nirwana

langkahku dalam hujan pencarian…….

Peranan kreatif dan Inovatif

BAB I

Pendahuluan

1.1  Latar belakang masalah

Dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia yang kian hari semakin banyak, banyak perusahaan dan industri yang memproduksi dan menjual berbagai jenis barang dan jasa. Perusahaan dan industri yang ada saling bersaing untuk memberikan yang terbaik kepada konsumen dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun dilain pihak, masyarakat sebagai konsumen dapat mengetahui informasi mengenai suatu produk dari iklan di media massa, baik itu media cetak maupun media elektronik, atau dari pengalaman masa lalu dalam penggunaan suatu produk tertentu. Maka sudah sewajarnya apabila konsumen menjadi semakin selektif didalam memilih suatu produk. Kecenderungan yang terjadi adalah masyarakat akan memilih suatu produk yang mereka anggap mempunyai keunggulan kualitas, baik keunggulan kualitas produk ataupun pelayanannya sehingga dapat memuaskan mereka sebagai konsumen dan dapat menciptakan loyalitas konsumen.

Namun sejak krisis global melanda dunia termasuk Indonesia, banyak para pengusaha Indonesia, menghadapi permasalahan yang cukup berat. Permintaan produk ekspor dari luar negeri menurun drastis begitu juga dengan permintaan dari domestik. Begitu juga dengan dunia usaha perbankan, banyak para kreditur yang tidak bisa melunasi hutang, termasuk kreditur perumahan. Para debitur menarik dananya dari bank, sehingga mengancam kredibilitas bank tersebut dan akhirnya banyak pihak perbankan yang melakukan pemotongan karyawan (pemecatan karyawan) untuk mengurangi biaya.

Untuk menghadapi krisis global, para pengusaha perbankan harus melakukan terobosan baru yang lebih efisien dan efektif dari pada sekedar melakukan pemecatan karyawan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan kreatifitas dan inovasi. Hanya dengan kreatifitas dan inovasilah dunia usaha dapat berkembang walau di hadapkan pada krisis global karena permintaan terhadap produk dan jasa yang kreatif dan inovatif tidak dipengaruhi oleh krisis ekonomi.

Masalah dan ide tersebut melatar belakangi penulisan penelitian ini dengan judul ”Pendekatan Perilaku Kreatifitas dan Inovasi dalam Kondisi Krisis”.

seemore ++++

« Older entries